Kala Diare Menyerang Di Perjalanan

Saat itu aku berada dalam perjalanan menuju Bkamur Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, atau yang selanjutnya akan aku sebut dengan Bkamura Sepinggan. Bkamura ini terletak di kota Balikpapan yang berjarak sekitar 3 jam dari kota aku, Samarinda. Perjalanan ini aku lakukan karena aku harus kembali ke kota perantauan aku, Surabaya, melalui Bkamura Sepinggan karena di kota aku belum menyediakan bkamura yang mampu untuk melakukan penerbangan ke luar pulau. Oleh karena itu, setiap aku terbang kembali ke Surabaya, aku harus melakukan perjalanan darat terlebih dahulu menuju kota Balikpapan. 
Dan beginilah kisah itu bermula… 
Travel yang aku tumpangi menuju kota Balikpapan siang ini mulai melaju dengan kecepatan sedang. Saya menyibukkan diri aku dengan sebuah novel yang pegang sedari tadi, mencoba menghabiskan waktu dengan cara yang terbaik. Tidak ada firasat buruk atau pun perasaan tidak nyaman yang aku rasakan. Namun, setelah 1 jam perjalanan, aku mulai merasa ada yang tidak beres pada perut aku. 
“Kenapa jadi sakit perut gini? Perasaan belum jadwalnya menstruasi. Magh juga nggak punya.” aku berbisik dengan diri aku sendiri. 
Saya hanya dapat terdiam di kursi yang aku duduki. Mencoba mengalihkan rasa sakit yang aku rasakan dengan membaca buku yang masih aku pegang, berharap rasa sakit ini akan mereda dengan sendirinya. Tapi ternyata cara ini juga tidak berguna. Akhirnya, aku memilih untuk mencoba tidur di sisa perjalanan. 
Nyaris tiga jam berlalu. Gerbang Bkamura Sepinggan sudah terpampang di kedua mata aku. Saya menghirup nafas lega. Memang, aku sukses tidur di sisa perjalanan, namun aku selalu terbangun hampir setiap 30 menit dan kembali merasakan nyeri perut yang sesemakin menjadi-jadi. Lalu, aku mencoba tidur kembali. Dan begitu seterusnya. 
Bkamura hari ini tidak terlalu ramai. Saya baru saja melakukan check-in dan mendapatkan boarding pass aku dengan cepat. Tapi, tiba-tiba perut aku sakit dan mendesak aku untuk ke kamar mandi. Saya pun bergegas mencari kamar kecil terdekat dari konter check-in.

Dimodifikasi dari https://www.rodalesorganiclife.com/

Keringat dingin mulai nampak bercucuran di kedua pelipis aku saat aku masih berdiri di dalam bilik kamar kecil yang aku diami. Baru saja aku merelakan ‘pembuangan’ aku yang berbentuk cair, tapi perut aku sudah menuntut haknya untuk mengeluarkannya lagi. Akhirnya, aku pun sukses mengeluarkan harta harun aku sebanyak 2 kali dalam 1 periode. 
Setelah urusan aku selesai di kamar kecil, aku bergegas menuju lokasi ruang tunggu. Was-was jika saja perut aku berulah kembali. Tapi benar saja, baru hingga di ruang tunggu, perut aku sudah memaksa aku untuk bersemedi di kamar kecil lagi. Saya pun memutuskan untuk menunggu waktu boarding di kamar kecil saja, setidaknya aku tidak perlu bolak balik. Dan disaat itu aku menyadari bahwa aku mengalami diare. 
Saya memeriksa tas aku, berharap ada terselip obat anti diare di dalam tas aku. Saya memang biasa membawa beberapa obat-obatan di tas aku saat bepergian, tapi akungnya, yang terbawa di tas aku saat itu hanya Paracetamol. Tiba-tiba suara orang yang sedang membersihkan lantai terdengar dari luar balik kamar kecil. Ah aku punya ide, pikirku. Aku membuka pintu kamar kecil dan mendatangi cleaning service yang kebetulan ada dihadapanku. 
“Bu, orang jual obat mencret dimana ya? Disini ada apotik nggak, bu?” tanyaku kepada ibu-ibu cleaning service yang mungkin masih berusia sekitar 30 tahunan. 
“Mbak mencret?” tanyanya kembali. Untungnya, tidak ada orang lain disana jadi aku tidak perlu malu untuk menanggukkan kepalaku. 
“Sebentar, mbak. Saya ambilkan dulu. Kebetulan aku ada. Kemarin juga aku habis mencret, jadi simpen obat juga disini” ibu-ibu itu pun meninggalkan aku dan bergegas ke tempat ia menyimpan obat-obatannya. 
Tak hingga 5 menit, satu keping Entrostop sudah berada di tanganku. Aku merasa kejatuhan durian runtuh yang nggak berduri hari itu. Seolah-olah ada seorang malaikat yang sengaja diturunkan oleh Tuhan untuk mengatasi masalahku dengan cuma-cuma. Dan diare-ku pun lenyap sesaat sebelum pesawat berangkat. 
Dan beginilah kisah ini berakhir. Ya, diare memang sangat menyebalkan. Dia dapat pergi dan datang kapan saja, tanpa di undang. Oleh karena itu, ada baiknya kita mengetahui tentang diare, sehingga kita dapat siap diri untuk menghadapi diare yang dapat menyerang kapan saja. Jadi, yuk kita sama-sama belajar sedikit tentang diare. 
Diare itu apa ya? 
Diare merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair sebanyak 3 kali atau lebih dalam satu hari. Secara umum, diare dapat disebabkan oleh infeksi kuman-kuman penyakit, keracunan atau alergi makanan, malabsorbsi (ketidakmampuan tubuh menyerap makanan), faktor psikologis (seperti cemas), dan lingkungan yang tidak bersih bersih disertai perilaku yang tidak sehat. 
Apa yang dilakukan jika terserang diare? 
Pada umumnya, diare akut atau diare yang berlangsung selama 3 – 7 hari bersifat ringan dan dapat sembuh cepat dengan sendirinya melalui pemberian cairan dan obat anti diare. Nah, berikut ini merupakan beberapa langkah yang harus kita lakukan untuk mengatasi diare dengan tepat & benar bagi orang dewasa. 
1. Mengkonsumsi cairan dan diet memadai 
Penderita diare tidak dianjurkan untuk berpuasa dan diharapkan dapat segera diberikan cairan yang memadai. Hal ini memiliki tujuan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Minuman yang mengandung alkohol atau kafein tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan kerja usus. Makanan yang dikonsumsi pun sebaiknya tidak mengandung gas dan mudah dicerna. Selain itu, penderita diare dapat mengonsumsi cairan Oralit atau larutan gula garam untuk mencegah atau mengatasi dehidrasi. Oralit atau larutan gula garam sendiri merupakan cairan yang mengandung gula dan elektrolit. Oralit dapat didapatkan di pelayanan kesehatan terdekat dalam bentuk sachet. Sementara larutan gula garam merupakan cairan yang dapat diolah sendiri di rumah dengan menyampurkan 1 liter air mineral dengan 6 sendok teh gula dan ½ sendok teh garam. Diharapkan dengan mengonsumsi oralit atau larutan gula garam, cairan dan elektrolit tubuh yang keluar karena diare dapat kembali seimbang. 
2. Mengkonsumsi obat anti diare 
Penderita diare dapat diberikan obat antidiare untuk mengurangi gejala. Entrostop merupakan salah satu contoh obat anti diare yang dijual bebas di pasaran Indonesia. Entrostop sendiri mempunyai kandungan Colloidal Attapulgite dan Pectin yang berfungsi menyerap racun, bakteri dan virus penyebab diare, serta memadatkan kotoran. Obat ini merupakan obat yang dapat kita bawa kemana pun kita pergi, sehingga kita tidak perlu panik jika mendadak kita menderita diare. 
3. Berikan antibiotik 
Antibiotik diberikan pada penderita yang mempunyai indikasi, atau diare yang mungkin disebabkan oleh infeksi bakteri. Antibiotik ini dianjurkan berdasarkan resep dokter. Namun, antibiotik biasanya jarang digunakan pada diare akut infeksi karena 40% kasus diare infeksi sembuh dalam waktu kurang dari 3 hari tanpa pemberian antibiotik.

Jika dipikir, mungkin diare merupakan penyakit yang sepele. Tapi, jika diperhatikan baik-baik, diare sebenarnya merupakan penyakit yang membahayakan. Pengeluaran cairan secara terus-menerus karena diare dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi, dehidrasi inilah yang tak jarang mengakibatkan kematian pada orang-orang yang terlambat untuk ditangani. Oleh karena itu, penting untuk mempunyai pengetahuan mengenai diare sehingga kita siap atasi diare dengan tepat & benar dimana pun kita berada. 

Refrensi: 
Amin, Lukman Z. 2015. Tatalaksana Diare Akut. CDK-230 Vol. 42 (7). 
Ikatan Dokter Indonesia. 2014. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer Edisi Revisi Tahun 2014. Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia.

Article Source: https://comoedicas.com.com/